Jalan-jalan ke kota Padang, jangan lupa makan rendang

Bahagia hati memikat jiwa, bila bertandang ke Masjid Raya

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan icon kota Padang. Bentuknya yang unik, serta arsitektur yang megah, membuat pengunjung betah berlama-lama di masjid ini.

Seperti hari ini ya Gaess..

Dari halaman parkir, terlihat dua teras yang melandai ke arah kiri dan kanan jalan. Posisi saya tepat di tengah-tengah halaman masjid. Saya coba memandang ke arah kanan, tampak sinar matahari menerpa halaman masjid. Ternyata di arah kiri, sama juga gaess..

Puanasnya pooll..

Puasa-puasa begini, bikin malas jalan banyak-banyak. Apalagi panas-panasan. Nggak banget deh…

Tapi, rasa penasaran akan pesona masjid raya ini, akhirnya kaki …

Agar bisa masuk ke dalam Masjid Raya Sumatera Barat, harus melewati teras panjang, tinggi, dan melandai.

BACA JUGA  Pantai Gondoriah yang Menakjubkan

Sebelum memasuki teras masjid, panas Kota Padang bener-bener telah menyentuh kulit. Segera kutuju teras di sebelah kiri yang dihiasi dengan rerumputan hijau yang disusun seperti kotak-kotak persawahan. Semakin melangkah menuju ke atas, ternyata semakin sejuk, Gaess. Semakin tinggi, angin yang bertiup semakin kencang. Seolah-olah menghapus panas yang menyengat.

Sesampai di ruang utama masjid, tampak banyak sekali anak-anak yang sedang belajar mengaji bersama seorang guru. Sebagian orang sedang melaksanakan solat dhuha. Sebagian lagi sedang merebahkan badan.

Masya Allah..

Masjidnya luuuass banget, Gaes..

Di dalam masjid, arsitekturnya megah sekali. Bagian dinding masjid diberi ornamen khas Sumatera Barat.

Biasanya, atap sebuah masjid berbentuk kubah yang menjulang ke atas. Tapi tidak dengan Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid Raya Sumatera Barat berbentuk segi empat dengan ujung setiap seginya melancip ke atas, khas seperti rumah Bergonjong suku adat Minangkabau.

BACA JUGA  Upaya Nyata Kemenhub RI Ciptakan Kenyamanan Transportasi Indonesia

Kubah Masjid Raya Sumatera Barat dibuat seperti bentuk bentangan kain untuk mengangkat batu Hajar Aswat. Pada masa Rasulullah SAW, empat kabilah suku Quraisy berebut untuk mengusung Batu Hajar Aswat dan memindahkan batu tersebut ke tempat semula setelah renovasi Kabbah. Agar tidak ada perseteruan, maka Rasulullah meletakkan batu tersebut di tengah selembar kain. Lalu, setiap ujung selembar kain tersebut dipegang setiap kabilah suku.

Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat dijerjakan oleh seorang arsitek bernama Rizal Muslimin. Arsitek ini memenangkan  sayembara desain yang diikuti oleh 232 peserta dari berbagai negara pada tahun 2007. Masjid megah ini dibangun dengan menggunakan konstruksi baja yang tahan gempa. Mengingat Provinsi Sumatera Barat merupakan wilayah rawan gempa.

Hmmm…

Masya Allah kan Gaes..

Bikin suasana hati terasa adem saat melaksanakan ibadah solat di masjid ini..

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini