Riauhub.com – Kampung halaman adalah tempat yang selalu dirindukan suasananya. Banyak hal yang membuat diri selalu betah berlama-lama saat berada di kampung halaman. Saat berada jauh darinya, maka kesempatan untuk pulang kampung adalah sebuah hadiah terindah untuk para perantau.

Kampung halaman identik dengan kehangatan cinta, kebersamaan, canda tawa, dan menyantap kuliner dalam kebahagiaan. Tidak heran jika pengalaman pulang kampung adalah bagian dari perjalanan eksotis yang selalu dinanti-nanti hingga tiba waktunya.

Tiada kusangka dan tiada kuduga. Keinginan untuk merasakan nikmatnya pulang kampung, masih dalam angan-angan. Tapi, Allah Maha Baik. Atas kebaikan dari-Nya, kemarin sore, keluargaku kedatangan saudara dari kampung halaman. Ini benar-benar sebuah anugerah. Kehadiran keluarga dari kampung halaman sudah cukup mewakili suasana kampung halaman yang hadir bersama dengan saudara tersebut. Rindu yang telah lama menetap dalam dada, sedikit berkurang. Ibarat air yang tergenang, sudah mulai mengalir sedikit karena telah menemukan muaranya.

Tamu istimewa ini aku panggil dengan Bujing. Bujing ini berasal dari Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Beliau membawa anak lelakinya yang masih kecil. Anak-anakku memanggil adik kecil itu dengan sebutan Tulang. Mengapa? Karena Bujing tersebut merupakan istri dari adik kandung ibu mertuaku. Suami dari si Bujing merupakan Tulang Kandung dari suamiku. Hayooo lhooo, bingung kan? Hahahah

Makanya, bergaullah dengan kami, Batak Mandailing atau Batak Tapanuli Selatan. Meskipun berasal dari suku yang original sekali, tetapi masyarakat suku Mandailing hampir seratus persen muslim.

Tidak perlu ragu untuk mengenal Batak Mandailing lebih jauh. Dengan logat ‘e’ yang cukup kental dan bersuara keras, belum tentu mereka berhati batu. Tau kan bika ambon? Begitulah orang Batak, keras di luar, lembut di dalam. Wajah boleh preman tapi hati hello kitty. Wkwkwkwk.

Untuk yang pernah memberi batas pada orang Batak Mandailing, semoga kebaikan-kebaikan yang dimiliki serta cinta yang diberikan oleh para keturunan Batak Mandailing bisa Anda rasakan. Lewat kebaikan-kebaikan itu, bisa membuka mata batin Anda dan menyentuh hati Anda. Lalu, Anda pun tahu bahwa Batak Mandailing itu layak untuk dijadikan sebagai saudara dan teman dekat.

BACA JUGA  Food Opera Pilihan Tepat untuk Wisata Kuliner, Apa Saja Fasilitasnya?

Kembali pada kehangatan rasa yang dicicipi saat pulang kampung.

Bujing yang masih berusia seperempat abad ini membawa buah tangan sebagai titipan rindu dari orang-orang yang tertinggal di kampung halaman. Lewat buah tangan itulah mereka menyampaikan rasa rindu mereka. Meskipun mata tak sempat saling menatap, tangan tak sampai untuk berjabat, dan tubuh tak bisa saling memeluk karena rindu. Maka, keberadaan buah tangan yang diselingi dengan ucapan “kirim salam” telah mewakili kahadiran mereka untuk berkumpul di sini.

Bujing yang sangat ramah dan baik hati ini membawa berbagai macam hasil kebunnya. Mulai dari tomat anggur, bawang prey, buah-buahan, hingga makanan tradisional hasil olahan tangan mereka yang tidak ikut serta dari kampung halaman.

Apa saja makanan tradisinal tersebut? Cekidot:

1. Wajik

Wajik dan beberapa kuliner khas Sipirok ini biasanya dijual dalam jumlah besar saat Poken Kamis (Pasar Besar pada hari Kamis).
Wajik terbuat dari kumpulan hasil alam bumi Sipirok Nauli (Sipirok yang indah) seperti gulo bargot (gula enau), sipulut (beras ketan), santan, dan garam. Beras ketan dikukus selama lima belas menit. Setelah itu, rebus santan bersama gula enau, gula pasir, pandan, dan garam. Setelah semua bahan menyatu, santannya mulai mengering, dan kue mulai mengkilat, maka wajik dipadatkan dan dibungkus dengan daun pisang.

Foto : cookpad.com

Aroma wajik yang menggoda selera akan menyatu dengan bungkus daun pisang. Akan sangat berbeda kualitas rasanya jika wajik dibungkus dengan wadah lain seperti plastik. Bungkus daun pisang memberi kesan tentang nikmatnya kembali pada alam. Dengan melestarikan alam, maka akan lestari juga masa depan bumi dan penghuninya di masa yang akan datang.

2. Kalamai / Alame

Alame adalah makanan khas masyarakat Mandailing yang terbuat dari gulo bargot (gula merah), tepung beras ketan (sipulut), dan santan kelapa.
Masyarakat Batak Mandailing biasanya membuat alame saat perayaan hari-hari besar. Pada mulanya, masyarakat akan berkumpul dan bersama-sama memasak alame di saat Bulan Puasa Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Masyarakat bersama-sama mengadon alame, dan secara bergantian pula mengaduknya dengan jumlah sutil panjang yang sangat banyak, dan menggunakan kuali raksasa untuk menampung adonan.
Di sinilah kebersamaan itu tercipta. Masyarakat memiliki kebun-kebun penghasil bumi seperti kelapa, pohon aren, dan ketan.
Bila musim ‘mangalame’ telah tiba, maka hasil bumi tersebut akan bersama-sama diolah.

Foto : Sumuthebat.com

Memasak alame butuh perjuangan panjang. Adonan harus selalu diaduk terus-menerus hingga mengental. Nah, saat alame sudah mulai mengental, maka perjuangan untuk mengaduknya semakin berat. Biasanya tugas di akhir akan diselesaikan oleh kaum bapak bersama naposo bulung (pemuda-pemuda kampung).
Sebagian masyarakat menyerahkan kayu bakar yang diperoleh dari hutan. Sebagiannya lagi memberikan anyaman daun pandan yang telah dianyam seperti tikar. Sebagian lagi menyiapkan peralatan dan alas duduk. Sebagian lagi menyiapkan camilan berupa kerupuk sambal taruma dan beberapa gelas kopi sipirok. Mmmm, yummy..

BACA JUGA  Food Opera Pilihan Tepat untuk Wisata Kuliner, Apa Saja Fasilitasnya?

Inilah suasana yang membuat rindu tak pernah jera untuk merasakan nikmatnya pulang kampung. Setiap orang berupaya memberikan bantuan dan berlomba untuk mengambil peran dalam tugas-tugas kemasyarakatan tersebut.

Jika alame telah mengental, maka alame siap dibungkus ke dalam bungkus anyaman pandan. Lalu, alame siap dijadikan sebagai santapan hari raya sekaligus sebagai oleh-oleh buat sanak saudara.

Oleh-oleh yang diberikan oleh Bujing dari Sipirok, terdapat dua bungkus alame. Kata si Bujing, alame itu sengaja dimasak oleh sanak saudaranya menjelang mereka berangkat menuju ke Pekanbaru. Wow, sempat-sempatnya ya mengadon masakan khas ini. Semua ini tidak lain dan tidak bukan sebab karena cinta buat orang-orang yang telah merantau meninggalkan kampung halaman. Dengan mencicipi alame, sedikit banyaknya, kerinduan akan kampung halaman bisa terobati sekejap.

A: Andai rindu datang bertamu
L: Lupakan sedih
A: Ajak tersenyum
M: Menikmati sajian kampung
E: Enaknya sampai ke dasar hati

Hahaha…
Terima kasih seluruh sanak dari Ibu Mertua yang telah rela meluangkan waktu dan tenaganya hanya untuk menyapa rindu buat yang jauh di rantau. Semoga kebersamaan abadi, melekat hingga akhir hayat.

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini