Riauhub.com – Selayaknya sebuah kota tua, setiap daerah menyimpan cerita tersendiri dengan jejak-jejak peninggalan sejarah. Jejak-jejak ini tidak hanya menjadi sebuah cerita, namun lebih dari itu. Setiap kota tua akan memberikan narasi tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan untuk mempertahankan Bumi Pertiwi, Indonesia, agar Sang Saka Merah Putih masih bisa berkibar leluasa sampai detik ini.

Satu-satu gerimis masih turun dan membuat jalanan menuju Kota Tua Padang basah sekadarnya. Masuk ke Jalan Ganting, aku menemukan sebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan masih berfungsi hingga sekarang. Bangunan ini bernama Masjid Raya Ganting. Masjid tersebut pernah menjadi tempat paling bermakna bagi masyarakat Kota Padang di masa lampau, juga di masa kini.

Pada masa lampau, bangunan bersejarah ini dibangun tahun 1805 dan menjadi pusat pergerakan reformasi Islam pada abad ke-19. Presiden Soekarno pernah mengungsi ke Masjid Raya Ganting pada masa perjuangan kemerdekaan RI. Pada tahun 1833, Kota Padang pernah diguncang gempa dan tsunami. Namun, Masjid Raya Ganting tetap utuh. Akan tetapi, pada musibah gempa yang terjadi pada tahun 2009, saat gempa kembali melanda Sumatera Barat, bangunan masjid tertua di Kota Padang ini mengalami kerusakan, terutama di bagian tiangnya.

Mengulang kembali sejarah di masa perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1918, Masjid Raya Ganting dijadikan sebagai pusat perkumpulan para ulama revolusioner di Minangkabau. Selain itu, masjid yang dibangun dengan arsitektur Eropa-Cina tersebut pernah menjadi titik embarkasi haji di Sumatera Tengah yang meliputi wilayah: Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau dan para jamaah haji diberangkatkan melalui Pelabuhan Emma Haven, yang sekarang bernama Teluk Bayur.

Masjid Raya Ganting

Hingga kini, Masjid Raya Ganting sering dikunjungi oleh para petinggi negara serta para turis lokal dan mancanegara untuk mengenang jejak-jejak peradaban di Kota Tua Padang.

Setelah mengabadikan foto Masjid Raya Ganting, aku beranjak menuju lokasi di sekitar Pecinan. Di lokasi tersebut, terdapat perkampungan masyarakat Tiongkok dengan sebuah Kelenteng yang usianya cukup tua. Di sekitar wilayah Pecinan terdapat perkampungan Orang Keling yang berasal dari India. Hal ini terbukti dengan sebuah bangunan bersejarah dengan arsitektur India, yaitu Masjid Muhammadan yang dulunya dijadikan sebagai tempat anak-anak mengaji.

Berdampingan dengan etnis Tiongkok, India, Melayu, dan Minangkabau, bangunan dengan arsitektur bergaya Kolonial terbentang di sekitar Sungai Batang Arau. Aku berjalan menyusuri pinggiran Sugai Batang Arau. Di pinggir sungai terdapat seruas jalan aspal dengan banyak sekali bangunan kuno. Aku merasa seolah-olah sedang menikmati perjalanan di Negeri Belanda.

Bangunan tua peninggalan belanda

Di sisi jalan, terdapat salah satu bangunan Kolonial yang sudah masuk dalam cagar budaya. Hingga kini, bangunan tersebut masih berfungsi sebagai Kantor Cabang Bank Mandiri. Berjalan beberapa langkah, terdapat banyak bangunan tua yang masih belum difungsikan. Misalnya, beberapa bangunan yang tidak terawat dan sebagian lagi rusak saat dilanda gempa dan tsunami. Namun, ada juga yang berfungsi sebagai gudang, misalnya Gedung Geo Wehry. Gedung ini dulunya tercatat sebagai gedung terbesar dan tercantik di Kota Padang. Meskipun beberapa bangunan masih dalam proses peremajaan, Pemko Kota Padang sedang berupaya untuk kembali membenahi bangunan-bangunan tua di Kota Tua agar kelak tetap menjadi ingatan bagi masyarakat lokal dan masyarakat dunia bahwa Kota Padang menyimpan sejarah pejuangan RI. Selain itu, Kota Padang juga pernah disetarakan dengan Kota Metropolitan karena banyak kegiatan perdagangan antarnegara berlangsung di Kawaasan Kota Tua Padang.

Gedung Geo Wehry

Gerimis mulai reda. Ada secercah harapan yang menari-nari dalam mindaku. Harapan itu semakin menggelora saat pandanganku jatuh pada pesona Pelabuhan Muara di hilir Sungai Batang Arau. Harapan apakah itu? Ini hanya sebuah harapan sederhana, namun cukup berarti bagi serpihan mutiara yang berserakan sepertiku. Akan aku sampaikan nanti, selepas kuceritakan kekagumanku pada Kota Tua Padang yang eksotis.

BACA JUGA  Pelabuhan Pelindo 1 Pekanbaru, Saksi Bisu Kejayaan Perdagangan Masyarakat Pekanbaru

Pelabuhan Muara Padang pada abad ke-17 merupakan pelabuhan tersibuk yang berfungsi sebagai pintu gerbang antarpulau terutama Pulau Mentawai. Aku mecoba memberanikan diri menyeberangi jembatan gantung di atas Sungai Batang Arau. Di sepanjang pelabuhan terdapat kapal-kapal nelayan yang berlabuh. Corak dan warna kapal-kapal tersebut membuat pemandangan di sepanjang Sungai sangat menarik. Selain kapal nelayan, banyak pula terdapat kapal-kapal wisata yang sedang berlabuh.

Di sepanjang pelabuhan masih terlihat cukup sibuk dengan berbagai aktivitas masyarakat di sekitar Pelabuhan Muara. Di seberang jembatan gantung, terdapat banyak sekali gudang-gudang peninggalan Belanda yang sudah tidak difungsikan lagi. Dulu, gudang-gudang tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dagangan milik Belanda.

Di setiap pintu belakang gedung, terdapat anak-anak tangga yang langsung menyentuh permukaan sungai. Jadi, setiap barang yang akan dibongkar muat dari kapal, langsung dimasukkan ke dalam gudang melalui pintu belakang. Memoriku mencoba menggambarkan suasana di masa itu. Para Kolonial bisa membangun kekuatan militer, menguasai wilayah, menguasai sumber daya alam dan perekonomian, serta menciptakan hegemoni kekuasaan terhadap masyarakat pribumi.

Lewat tulisan sederhana ini, aku tidak hanya ingin menceritakan tentang sejarah peradaban Kota Tua Padang. Namun, lebih dari itu. Aku ingin semua anak bangsa melek terhadap pertahanan keamanan dan cinta tanah air. Dengan menumbuhkan rasa ke-bhinnekaan tunggal ika, bangsa yang kita cintai ini tidak akan direbut oleh Bangsa Asing lagi.

Jembatan gantung diatas Pelabuhan Muara

Matahari masih tersembunyi di balik awan. Angin sepoi-sepoi menguatkan semangatku untuk terus berjalan mengitari kota tua. Hingga akhirnya, aku sampai di Jembatan Siti Nurbaya.

Teringat tentang tokoh Siti Nurbaya dalam Novel fenomenal karya Sutan Takdir Ali Sjahbana itu, membuatku membayangkan Siti Nurbaya sebagai gadis Minang yang anggun dan lemah lembut. Meskipun kisah cintanya penuh liku-liku perjuangan, namun perjuangan dalam memperjuangkan cinta sejati dan pengorbanan dalam memeperjuangkankan kemerdekaan RI masih melekat kuat dalam jiwa masyarakat hingga di masa sekarang.

BACA JUGA  Masjid Raya Nur Alam, Masjid Raya Pekanbaru yang Tak Lagi Cagar Budaya

 Dari Jembatan Siti Nurbaya, aku menatap Pelabuhan Muara dan keindahan Kota Tua Padang. Suasana yang masih asri, serta kearifan lokal yang masih terjaga membuatku betah berlama-lama membangun mimpi-mimpiku. Lalu, aku menyeberang menuju arah Museum Bank Indonesia.

Jembatan Siti Nurbaya

Sebelum menjadi Gedung Bank Indonesia Lama, nama bangunan bergaya Hindia Belanda ini adalah De Javasche Bank Padang. Pada tahun 1998, bangunan ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya.

Museum Bank Indonesia

Siang mulai meninggi. Perjalanan kulanjutkan menuju Pasa Gadang. Jika selama mengitari Pelabuhan Muara masih sanggup kulalui dengan berjalan kaki, maka untuk menuju Pasa Gadang aku memilih untuk menaiki sepeda motor.

Sebelum abad ke-17, Kota Padang dihuni oleh para pedagang, para nelayan, dan para petani garam. Sejak hadirnya Kolonial Belanda di Kota Padang, kegiatan perdagangan mulai berkembang. Belanda juga membuka tambang batu bara di Sawahlunto.

Kerajaan-keraajan di Pulau Sumatera mulai ditaklukkan oleh Belanda. Setelah itu, Belanda membangun fasilitas-fasilitas pendukung untuk kepentingan perdagangan, seperti: bank, gedung perwakilan perusahaan, tempat-tempat penginapan, tempat hiburan, dll.

Pasa Gadang masih menyisakan bangunan tua hingga sekarang. Di pasar inilah pusat kegiatan berdagang bagi masyarakat pribumi. Hingga sekarang, kegiatan berdagang masih berlanjut di wilayah ini, meskipun tidak sesibuk masa lampau.

Menapaki jalanan yang penuh sejarah ini, aku mengenang seorang Sastrawan besar sekaligus ulama kebanggan Masyarakat Minangkabau. Dialah Buya Hamka. Berbagai karya dan ceramah-ceramahnya di RRI dan di TVRI, semua berisi tentang menentang penjajahan agar tidak kembali lagi dirasakan oleh generasi Indonesia. Sebuah karya sastra Buya Hamka yang mendunia adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Di dalam karya masterpiece tersebut tergambar suasana yang menggambarkan kehidupan di masa itu. Ditulis oleh seorang Sastrawan sekaligus ulama besar yang kesehariannya jauh dari sikap pendendam. Sebagaimana dalam kutipan kalimat beliau kepada anaknya:

Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti Saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan Saya ditahan, Saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah SWT kepada Saya sehingga Saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Quran 30 juz.” Ucap Buya Hamka (dalam Irfan, 2013 : 255-257).

Hadirnya ulama besar antikomunis seperti Buya Hamka, sebagai kaula muda, sudah selayaknya kita harus senantiasa mempertahankan kemerdekaan dengan cara memahami agama, tidak melupakan sejarah, giat menuntut ilmu, gemar membaca dan menulis, memahami kehidupan sosial-budaya-ekonomi, serta harus mengerti politik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Buya Hamka.

Sore mulai menjelma. Senja telah membuka tabirnya. Kututup petang dengan menjalankan ibadah salat di sebuah masjid di tengah Kota Padang. Perasaan ini begitu damai setelah melabuhkan segala pinta pada Dia Yang Maha Agung. Banyak pelajaran berharga yang kudapati dengan liburan singkat ini.

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini