Riauhub.com – Keberadaan Museum Sang Nila Utama di Kota Pekanbaru menjadi sebuah bukti bahwa Provinsi Riau kaya akan barang-barang pembuktian yang berkenaan dengan manusia dan lingkungan. Segala aspek budaya dan kehidupan sosial masyarakat Melayu tergambar jelas melalui Museum Sang Nila Utama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat penyimpanan barang kuno. Dalam Kongres Majelis Umum ICOM (International Council of Museum) sebuah organisasi di bawah UNESCO, menetapkan definisi museum sebagai berikut: “Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat, terbuka untuk umum, memperoleh, mengawetkan, mengkomunikasikan dan memamerkan barang-barang pembuktian manusia dan lingkungan untuk tujuan pendidikan, pengkajian, dan hiburan (dalam Museum Ulos di Medan karya Febrina pada e-journal.uajy.ac.id).

Berdasarkan definisi museum di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa museum merupakan sebuah sarana berupa gedung yang berfungsi untuk mengumpulkan benda-benda yang bisa mewakili kekayaan alam dan lingkungan serta kebudayaan masyarakat setempat. Maka, museum akan menjadi tempat terbaik untuk tempat melakukan pengkajian, pengenalan, serta mencari hiburan mengenai kehidupan masyarakat tertentu.

Berdasarkan rumusan ICOM, ada beberapa hal yang diutamakan dalam museum, antara lain:

  • Dokumentasi dan penelitian
  • Mengumpulkan dan menjaga warisan alam dan budaya
  • Preservasi dan konservasi
  • Pemerataan dan penyebaran ilmu kepada masyarakat
  • Memperkenalkan dan menghayati kesenian
  • Memperkenalkan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa
  • Visualisasi warisan alam dan budaya
  • Media untuk menyuarakan syukur bagi Tuhan pemilik hidup kita.

Bercerita mengenai museum, maka Museum Sang Nila Utama sangat layak untuk dikunjungi untuk memperkaya khazanah mengenai kehidupan masyarakat di Bumi Melayu, Provinsi Riau. Mengapa harus memilih Museum Sang Nila Utama sebagai lokasi destinasi? Berikut uraiannya.

Museum Sang Nila Utama merupakan museum daerah yang mengumpulkan dan menyimpan warisan-warisam budaya Melayu serta menjadi sarana untuk memperlihatkan kekayaan alam dan lingkungan di Bumi Melayu, Riau. Museum Sang Nila Utama beralamat di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 194, Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Lokasinya sangat strategis, tepat di jalan protokol dan hanya berkisar sepuluh menit dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II.

Museum Sang Nila Utama diresmikan pada tanggal 9 Juli 1994 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Prof. Dr. Edi Sedyawati. Adapun jadwal berkunjung ke Museum Sang Nila Utama sebagai berikut:

Senin s.d. Kamis pukul : 08.00-15.00 WIB
Sabtu s.d. Minggu pukul : 08.00-13.00 WIB
Jumat dan hari besar : tutup

Sebelum melakukan kunjungan ke dalam Museum Sang Nila Utama, ada beberapa hal berikut ini yang harus diperhatikan:

  • Dilarang merokok di dalam ruangan pameran
  • Dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam ruangan museum
  • Jaket, tas, topi, payung, dan sejenisnya harap dititpkan kepada petugas
  • Dilarang mengambil gambar dan memotret tenpa seizin petugas
  • Dilarang mencoret-coret dinding maupun koleksi museum.
Pict : ABG

Setelah memperhatikan hal-hal di atas, maka pengunjung silakan menaiki gedung utama di lantai dua. Silakan registrasi terlebih dahulu dengan cara mengisi buku tamu yang disediakan oleh petugas. Setelah mengisi buku tamu, petugas akan menyerahkan tiket masuk kepada pengunjung dengan ketentuan:

Dewasa : Rp 5.000/orang
Anak-anak : Rp 2.000/orang.

Pict : ABG

Apa saja yang menarik untuk diketahui dari Museum Sang Nila Utama?

1. Sastra dan budaya

Pada sebuah meja terdapat beberapa buah prasasti berupa batu bertulis. Batu bertulis tersebut ada yang menggunakan tulisan sanskerta dan aksara arab melayu. Ada juga yang sudah menggunakan huruf latin. Dari isi prasasti tersebut dapat diketahui bahwa keberadaan prasasti tersebut ditulis pada masa pengaruh masuknya agama Hindu dan masuknya agama Islam di Riau.

Pict : ABG

Di sisi sebuah museum terdapat poster yang bertuliskan “Sahabat Museum”. Dengan mengabadikan swafoto di depan poster tersebut, pengunjung sudah selayaknya menjadi “sahabat museum”. Hal ini dilakukan agar para pengunjung mempublikasikan kepada masyarakat tentang keberadaan Museum Sang Nila Utama sebagai sarana untuk memperkaya wawasan kesusastraan, pengetahuan, budaya, seni, serta sejarah di Bumi Melayu, Provinsi Riau. Dengan demikian, kultur, budaya, sejarah, serta lingkungan akan tetap lestari dan tidak hilang dari ingatan generasi karena ditelan zaman.

Pict : ABG

Di berbagai etalase kaca terdapat bermacam-macam permainan rakyat milik masyarakat Riau, seperti layangan, bola takraw, gasing, dan lain-lain. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Riau sangat kreatif dan inovatif. Permainan rakyat tidak hanya berfungsi untuk memperkaya pengetahuan, namun bisa memperkuat kebersamaan, bisa juga untuk menjaga interaksi, serta melatih ketelitian. 

Pict : ABG

Ada satu benda yang sangat unik terpajang di dalam museum. Sebuah kayu besar yang di permukaan kulitnya terdapat aksara (tulisan). Batu ini berasal dari Kecamatan Koto Kampar. Kayu ini sangat unik. Lama-kelamaan, kayu tersebut membatu menyerupai rumah siput.

Pict : ABG

Masyarakat Melayu Riau memiliki kepandaian di bidang tenun. Meskipun masih menggunakan alat tenun tradisional, masyarakat sangat telaten dalam mengerjakan kain tenun. Oleh sebab itu, kain yang ditenun akan menjadi songket yang memukau dengan berbagai macam motif. Motifnya berupa siku keluang, tampuk manggis, dan lain-lain. Dengan hasil kerajinan tersebut, songket Riau pun akhirnya dikenal di kancah dunia sebagai warisan budaya.

Pict : ABG

Di sebelah kerajinan tenun, terdapat berbagai macam pakaian adat Melayu dari berbagai Kabupaten/Kota. Setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Pakaian adat yang terbuat dari songket Melayu tersebut dipakai dalam acara pesta penikahan dan kegiatan-kegiatan adat.

BACA JUGA  Rekor Wahana Ayunan Tertinggi di Dunia Kini Dipegang Dubai

FOTO

Pict : ABG

Setelahnya, terdapat sebuah pelaminan bergaya khas Melayu dengan ornamen dan warna kuning emas. Di dalam pelaminan terdapat sepasang pengantin dan di luar pelaminan terdapat beberapa pasang pengantin dengan memakai pakaian adat masing-masing, lengkap dengan hiasan di kepala pengantin wanita, dan hiasan kepala di kepala pengantin pria yang dikenal dengan nama tanjak.

Pict : ABG

Selain telaten dalam menenun, masyarakat Melayu Riau juga kesehariannya tidak terlepas dari menangkap ikan di sungai dan di laut. Melayu daratan lebih cenderung menangkap ikan di sungai. Mengingat wilayah Riau daratan terdapat beberapa sungai yang sangat panjang, luas, dan dalam, seperti Sungai Siak, Sungai Kampar, Sungai Inderagiri, dan Sungai Rokan. Dari nama-nama sungai tersebut jugalah diambil penamaan kabupaten/kota di Provinsi Riau, misalnya: Kabupaten Kampar, Inderagiri Hilir, Inderagiri Hulu, Siak Sri Inderapura, Rokan Hulu ,dan Rokan Hilir. Sedangkan wilayah lainnya berada di sekitar perairan laut.

Sebagian besar masyarakat Riau yang hidup di sekitar sungai-sungai besar memiliki mata pencaharian nelayan. Masyarakat menggunakan bermacam-macam bentuk lukah untuk menangkap ikan.

Pict : ABG

2. Sains

Berbagai bentuk pengetahuan menjadi koleksi di dalam Museum Sang Nila Utama. Pada bagian pertama, terdapat satu unit yang mebahas mengenai proses pengeboran minyak bumi oleh PT Chevron Pacific Indonesia.

Di dalam sebuah kotak kaca terdapat replika sebuah hutan besar dan luas. Di tengah-tengah hutan tersebut terdapat berbagai macam replika yang menggambarkan proses pengeboran minyak bumi di Provinsi Riau. Jalur transportasi darat dan laut belum bisa menembus lokasi pengeboran. Hal ini menjadi permasalahan besar di saat itu. Oleh karena itu, akses satu-satunya untuk menuju lokasi pengeboran adalah lewat udara dengan menggunakan helikopter. Begitu juga dengan peralatan yang dibutuhkan harus disalurkan dengan menggunakan helikopter.

Dari kegiatan pengeboran dapat dikaji beberapa jenis bebatuan yang menyusun permukaan bumi di Provinsi Riau. Lalu, dapat pula dilihat hasil minyak mentah saat dilakukan pengeboran.

BACA JUGA  Kota Tua Padang Destinasi Sejarah yang Wajib Dikunjungi
Pict : ABG

Bergerak ke arah sisi kiri museum, terdapat beberapa ekor binatang khas dari Provinsi Riau. Binatang-binatang tersebut diabadikan di dalam etalase kaca. Jenisnya berupa: harimau, ular, kolaka, monyet, dan lain-lain. Dengan keberadaan binatang-binatang tersebut bisa menjadi cermin bagi generasi bangsa untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan. Hutan tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru bumi, namun hutan juga merupakan tempat tinggal flora dan fauna yang berfungsi untuk menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup manusia.

Pict : ABG

Ada satu yang menarik dari semua isi pameran ini, yaitu patung seorang wanita dengan menggunakan pakaian yang cukup aneh. Saat diperhatikan lebih dekat, ternyata wanita tersebut seperti sedang menggunakan kain penutup kepala (jilbab) dan penutup wajah (cadar) berwarna putih. Padahal, pakaian wanita tersebut adalah tradisi masyarakat setempat saat akan bekerja di ladang atau di sawah yang disebut dengan Maroguok.

Di bagian belakang terdapat berbagai macam rumah adat dari berbagai daerah di Riau. keseluruhan rumah adat tersebut berbentuk seperti limas dengan model rumah panggung. Pembuatan rumah adat di Riau tidak sembarangan. Ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi agar penghuni rumah tersebut merasakan kenyamanan. Misalnya, atap rumah harus tinggi dan diberi ruang udara serta jendela-jendela besar yang banyak agar udara bisa leluasa keluar masuk ke dalam rumah. Dengan demikian, suhu udara di dalam rumah akan terasa sejuk dan selalu mengalami pergantian udara. Contoh rumah adat yang ada di Riau adalah rumah Selasih Jatuh Kembar, rumah Lontiok, dll.

3. Sejarah

Saat memasuki pintu utama museum akan tampak goresan-goresan sejarah tertulis di dinding-dinding gedung. Ada tulisan yang menceritakan tentang perjuangan masyarakat Riau dalam melawan penjajah hingga pada masa kemerdekaan. Pada masa itu, informasi mengenai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diterima dari lisan oleh beberapa orang yang sengaja menyampaikan kabar bahagia tersebut ke berbagai daerah. Mengingat di masa itu peran radio masih terbatas. Jauh berbeda dengan di zaman sekarang. Jangankan kagiatan yang sudah berlalu beberapa menit, kejadian yang sedang berlangsung pun bisa sampai segera ke berbagai penjuru yang terdapat akses internetnya.

Pict : ABG

Di sebuah lemari kaca dipamerkan berbagai macam uang kertas yang pernah beredar di tengah-tengah masyarakat di Provinsi Riau. Menilik sebuah sejarah, Riau dikenal di dunia internasional di masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim hingga ke masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II ketika menjadi raja di Kesultanan Siak Sri Inderapura. Pada masa pemerintahan tersebut, masyarakat sangat makmur dan sejahtera bahkan Kerajaan sempat mengedarkan mata uang sendiri.

Pict : ABG

Di dalam lemari kaca lainnya terdapat duplikat mahkota raja Sultan Siak Sri Inderapura.

Pict : ABG

Menuju beberapa lemari kaca lainnya, terdapat berbagai macam bedil, yaitu senjata yang terbuat dari kayu dan besi yang digunakan untuk melawan Belanda.

Pict : ABG

Ada juga beberapa peralatan makan milik Belanda yang diabadikan di dalam lemari kaca. Hal ini menunjukkan bahwa Negeri Tercinta Indonesia benar-benar pernah dijajah oleh Belanda selama tiga abad. Keberadaan peralatan makan ini bisa dijadikan sebagai bukti kepada generasi muda dan generasi yang akan datang bahwa penjajahan bangsa asing di negeri ini bukan sebatas isapan jempol. Oleh sebab itu, setiap keluarga harus menanamkan jiwa patriotisme dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari keluarga agar negeri Indonesia tidak dijajah lagi oleh bangsa asing.

Pict : ABG

Berjalan menuju lantai dasar, terdapat sebuah replika Candi Muara Takus. Menurut informasi, Candi Muara Takus merupakan salah satu peninggalan sejarah. Lokasi candi berada di Kabupaten Kampar sekitar 118 km dari Kota Pekanbaru. Keberadaan candi menjadi bukti bahwa pengaruh ajaran Budha dari Kerajaan Sriwijaya pernah sampai ke wilayah Riau sekitar abad ke 12-13 M. candi Muara Takus memiliki pesona tersendiri. Bangunannya terbuat dari batu bata sehingga warnanya berbeda dengan warna candi pada umumnya di daerah Jawa.

Pict : ABG

Di sisi sebelah kanan pintu masuk museum terdapat berbagai macam koleksi foto para penguasa wilayah Riau. para penguasa tersebut merupakan kepala-kepala daerah (gubernur) pada masanya. Selain koleksi foto para penguasa, terdapat juga beberapa foto orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat Riau hingga sekarang. Mereka adalah Idrus Tintin dan H. Tenas Efendy.

Pict : ABG

Ruangan Museum Sang Nila Utama sangat luas. Terutama pada lantai dasar. Sangat nyaman jika kunjungan dilakukan secara beramai-ramai dan membawa anak kecil. Selain itu, museum ini juga difasilitasi dengan kursi tunggu. Bisa digunakan sebagai tempat beristirahat, tempat bertemu dengan sejawat, serta untuk sekadar bersantai.

Pict : ABG

Demikian uraian tentang isi museum Sang Nila Utama, Kota Pekanbaru. Untuk menambah wawasan sastra, sains, dan sejarah, alangkah baiknya langsung mengunjungi museum sebagai bagian dari cerminan kehidupan sosial mayarakat di Povinsi Riau.

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini