Riauhub.com – Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Pekanbaru mulai Jumat (17/4/2020), nestapa bagi Marni, janda beranak tiga ini.

Saat dijumpai Selasar Riau, Sabtu (18/4/2020), Anik, sapaan Marni menceritakan, ia hari itu hanya hanya makan nasi putih dengan lauk cabai giling diberi sedikit garam. Cabai dimakannya itu pun pemberian saudaranya.

“Sudah siap makan (siang) tadi, hanya makan cabai merah dan garam saja. Karena tidak ada lagi yang bisa dimakan,” kata Anik apa adanya.

Apa yang Anik makan tersebut merupakan dampak langsung dari Corona Virus Disease (COVID-19) mewabah di Indonesia, tanpa terkecuali pandemi di Pekanbaru.

Anik menceritakan, selama ini ia bergantung pada anak dan menantunya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk makan minumnya.

Anaknya, kata Anik, karyawan pada satu bioskop di Pekanbaru. Namun, karena ada kebijakan jaga jarak, berdampak terhadap pekerjaannya.

Hingga hari ini, anak janda tiga anak tersebut terpaksa dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Begitu juga dengan menantunya, bekerja di sebuah departemen store di Mall SKA.

“Semenjak ada COVID-19 ini, kami tidak ada aktivitas apapun. Uang masuk tidak ada lagi, anak bujang (laki-laki) saya sedang mencari kerja sekarang. Saya hanya menggantungkan hidup dari anak bungsu saya, kerja di Indomaret,” tuturnya.

BACA JUGA  Kasus Tumpukan Sampah, Walikota dan Sekda Pekanbaru Sudah Diperiksa Polisi

Di RW 02, Anik menumpang hidup dengan anak dan menantunya tersebut. Rumah mereka huni merupakan rumah petak, disewa tiap bulan. Ia berpindah-pindah rumah kontrakan selama 12 tahun.

Kondisi keuangan dan ekonominya semakin terpuruk, saat Pemerintah Kota Pekanbaru memberlakukan PSBB.

Janji angin surga oleh Pemko Pekanbaru dan Pemprov Riau terkait bantuan uang tunai dan sembako, hingga kini tak kunjung ia perolah.

“Saya sudah tanya ke RT, RW, mereka bilang ‘Apa mau dibagi? Tidak ada mau didata, apalagi dibagi sembako’, saya tanya ke Lurah, katanya semua diserahkan ke RT dan RW. Jadi nasib kami ini bagaimana?” ujar Anik.

Padahal, Anik sudah menanyakan langsung ke Ketua RT dan RW setempat. Namun, mereka mengaku tidak ada pendataan apalagi pembagian sembako oleh pemerintah.

“Semenjak PSBB ini, apalagi mau kita makan, gak ada lagi. Karena untuk mencari kehidupan di luar tidak bisa lagi, bantuan pemerintah lah paling kita harapkan,” kata Anik berkeluh kesah.

Sementara itu, pengakuan Anik, Ketua RW setempat, malah membagikan bantuan sosial dan lainnya berdasarkan prinsip Anak Menantu Ponakan dan Ipar (AMPI). RW hanya memberi bantuan kepada orang-orang dekat saja.

BACA JUGA  Tambah 303 Positif, Riau Peringkat Keempat Nasional Penambahan Kasus Covid-19

“(Orang) mampu dan masih saudara pasti dapat, janda di depan sana itu malah tidak dapat,” kata Anik sambil menunuk rumah di depan kontrakannya.

Tetangga depan gang kontrakan Anik, Yus juga mengalami hal sama. Ia merupakan janda enam anak, biasa berjualan di depan SD.

Sebelumnya, suami Yus bekerja sebagai pedagang ayam. Namun sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, ia harus menggantungkan hidup dari berjualan chicken (ayam goreng).

Namun, sejak pertengahan Maret, sekolah dasar ia berjualan, juga sudah diliburkan. Sehingga ia tidak bisa berjualan lagi.

“Ini anak Bu Yus sedang masak mie, karena tidak ada bisa dimakan lagi,” kata Anik.

Tetangga Anik lainnya, Eli juga mengeluhkan hal sama. Ia tidak dapat bantuan dari pemerintah.

Padahal, kebijakan PSBB nyata-nyata membuat penghasilan suaminya tidak ada lagi.

Suami Eli bekerja sebagai pedagang di pasar kaget. Padahal, selama PSBB berlangsung hingga 30 April 2020 mendatang, Wali Kota Pekanbaru, Firdaus menegaskan, pasar kaget tidak boleh buka. Warga hanya boleh belanja di pasar resmi dikelola Pemko.

“Kalau tidak ada pasar kaget, ya kami tidak bisa jualan,” ujar Eli.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here