Riauhub.com – Di akhir-akhir masa jabatannya, Wali Kota Pekanbaru, Firdaus kembali mendapat sorotan dari DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Pekanbaru atas kinerjanya dalam mengelola pemerintahan, kali ini sorotan ke pembangunan Pasar Induk.

Pasar Induk merupakan program Firdaus sekitar tahun 2016 dengan rekanan kerja PT Agung Rafa Bonai, dimana Firdaus sempat menggadang-gadangkan pasar ini sebagai central grosir bahan pokok terbesar di Pekanbaru, namun sampai hari ini masih terbengkalai.

Pembangunan pasar yang berada di Jalan Soekarno-Hatta ini bahkan sempat diprotes oleh warga sekitar pasar, sebab pembangunan pasar membuat masyarakat sekitar diserang banjir, karena limpahan air dari pembangunan ini.

“Perencanaan sudah, kajian sudah, tinggal melaksanakan saja. Kok bisa amburadul gitu? Ada apa? Duit kan ada tersedia di APBD, kan aneh. Apa masalahnya?” ujar Wakil Ketua DPRD Pekanbaru, Nofrizal, Jumat (5/2/2021).

BACA JUGA  7 Paskibra Pekanbaru Batal Bertugas Akibat Terpapar COVID-19

Pasar induk tersebut, jelas Politisi PAN ini, sudah sangat lama direncanakan, namun sampai hari ini, apa yang dijanjikan oleh Pemko Pekanbaru dahulunya belum nampak bukti nyatanya.

Diceritakan Nofrizal, dulu Pemko memaparkan dua pasar, yakni Pasar Palapa dan Pasar Induk Soekarno Hatta ini, dimana Pasar Palapa akan dibentuk menjadi model bertingkat, namun rencana itu ditolak oleh DPRD.

“Pasar Palapa mau dibangun bertingkat, saya bantah itu, karena Pasar Palapa tidak layak, saya bilang kalau jalannya terlalu kecil dan kalau ada kajian AMDAL (Analisa Dampak Lingkungan) yang memungkinkan, saya pertanyakan kajiannya. Nah, akhirnya hanya pasar induk yang dibangun,” ulasnya.

BACA JUGA  Teror Potongan Kepala Anjing di Riau Imbas Berebut Kepengurusan

Pasar induk ini, tegas Nofrizal, sebenarnya berpotensi besar, hanya saja tidak ada keseriusan baik dari pihak Pemko maupun dari pengembang. Kalau ada keseriusan, tak mungkin pasar itu tak ada peminat.

Lebih jauh, Nofrizal juga mempertanyakan perencanaan pembangunan pasar ini yang dibangun arah ke Soekarno-Hatta, padahal saat ini posisi paling strategis adalah di kawasan Terminal BRPS (Bandar Raya Payung Sekaki)

“Nyatanya pasar induk lebih cenderung di dekat terminal, kenapa gak dibangun disana saja. Semuanya amburadul, perencanaan, pengkajian dan pelaksanaan,” tutupnya.

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini