Kepulauan Meranti – Seorang balita berumur lebih kurang 4 tahun di Kecamatan Rangsang diketahui meninggal dunia dengan tragis. Dari sejumlah foto yang beredar, terlihat sejumlah bekas luka di sekujur tubuhnya.

Untuk memastikan penyebab kematiannya, polisi pun melakukan pembongkaran makam bayi yang sudah dikuburkan selama dua hari itu untuk dilakukan autopsi.

Saat ini pelaku penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia itu mengarah kepada orang tua asuhnya yang kini telah ditetapkan tersangka.

Adapun kasus dugaan penganiayaan bayi itu dilaporkan oleh oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos – P3AP2KB) melalui UPTD PPA Kepulauan Meranti.

Kepala UPTD PPA Kepulauan Meranti, Suprapti yang ditemui di ruangannya, Senin (16/8/2021) menceritakan kronologi sampai ditetapkannya tersangka seorang wanita berinisial RN (41). 

Diceritakan Suprapti, awalnya dirinya mendapatkan kiriman foto dari warga Tanjung Samak yang dikirimkan melalui stafnya. Setelah melihat ada beberapa kejanggalan pada tubuh sang balita, Suprapti menduga ada yang tidak wajar dari penyebab kematiannya. Lalu setelah itu ia pun melakukan koordinasi ke unit PPA Polres Kepulauan Meranti untuk selanjutnya membuat laporan terkait hal itu.

“Awalnya saya mendapatkan kiriman foto dari warga Tanjung samak yang dikirimkan melalui staf lalu meneruskan ke saya dan langsung kita tidak lanjuti. Karena ini berkaitan dengan perlindungan anak, bagaimana pun kita harus tanggap dan mencari tahu apa penyebabnya, karena saya melihat ada kejanggalan di foto itu apalagi kondisinya sudah meninggal pula dan dikebumikan. Setelah saya koordinasi dengan unit PPA Polres dan kita juga mitra ternyata memang belum ada laporan, padahal siapa saja bisa membuat laporan karena ini bukan delik aduan, melainkan pidana murni. Makanya kita sebagai instansi terkait hal itu membuat laporannya,” tutur Suprapti.

Setelah membuat laporan ke pihak kepolisian, keesokan harinya dikatakan Suprapti pihaknya langsung turun ke lapangan guna melakukan peninjauan kasus.

“Kita langsung turun ke lapangan untuk melihat tempatnya dan melakukan peninjauan kasus. Setelah itu berdasarkan perintah Kasat Reskrim, kami bersama pihak kepolisian membawa tersangka bersama tiga orang lainnya, diantaranya paman, tukang urut dan suaminya,” kata Suprapti.

Diceritakan, tukang urut yang dibawa sebagai saksi itu merupakan orang yang mendapati kondisi korban dalam keadaan kritis.

“Waktu itu kondisi korban sudah kritis dan dalam keadaan sesak nafas dan perutnya kembung. Oleh orang tua asuhnya dibawa ke tukang urut, sesampainya disana ia diurut pelan-pelan menggunakan minyak, namun semakin lama kondisi balita itu sudah lemah dan nafasnya pun sudah satu persatu dan seketika denyut nadinya berhenti berdetak dan meninggal dunia,” ungkap Suprapti.

Tukang urut, paman dan suaminya
Waktu itu korban sesak perutnya kembung, langsung dibawa pak jalal, diurut nafasnya udah sesak kritis

BACA JUGA  Wanita di Riau Siksa Anaknya Bareng Selingkuhan hingga Tewas

Diceritakan lagi, dulunya pada tahun 2010 ibu balita yang menjadi korban yang bernama Ami ditemukan dalam keadaan terlunta-lunta dan menangis di pinggir jalan tepatnya di Johor Baharu, Malaysia.

Lalu dia ditemukan oleh warga Rangsang bernama Arin yang sudah lama menetap di negeri Jiran itu. Ketika ditanyakan, Ami yang masih berusia belasan tahun mengaku dirinya diusir oleh orang tua angkatnya. Selanjutnya Ami dibawa Arin ke rumahnya untuk tinggal bersamanya dan dijadikan anak angkat. Waktu itu diketahui Ami belum menikah dan berkeluarga.

Berselang enam tahun lamanya, pada tahun 2016 Ami yang sudah dewasa berkeinginan untuk bekerja dan mencari pendapatan sendiri, suatu hari tanpa ada sebab dia pun kabur dari rumah, namun setelah dicari-cari tidak ditemukan.

Setelah dua tahun lamanya, Ami kembali muncul dan mendatangi rumah orang tua angkatnya itu dengan membawa seorang anak yang waktu itu berumur satu tahun. Ketika ditanyakan, Ami hanya bisa menangis, persis ketika pertama kalinya ia ditemukan di tepi jalan. Arin pun berkesimpulan bahwa cucu angkatnya tidak mempunyai ayah.

Selanjutnya Ami berencana untuk menyekolahkan anaknya itu, namun karena tidak memiliki dokumen dipastikan anaknya sulit untuk mengenyam pendidikan di negeri Jiran itu. Lalu dia pun membawa anak itu ke Rangsang tepatnya di rumah orangtuanya Arin yang bernama Rafidah.

Setelah beberapa lama, Ami yang ingin mencukupi kebutuhannya ingin kembali bekerja dan pergi ke Malaysia, namun karena tidak ada yang menjaga, anaknya itu dititipkan ke Tanjung Balai Karimun tepatnya di rumah saudaranya Arin yang bernama Erna.

Setelah beberapa lama berada di Malaysia, Ami langsung tidak ada kabar dimana keberadaannya dan tidak ada sama sekali melakukan komunikasi.
Hingga saat ini, suami Ami pun masih misteri keberadaannya.

Tersangka yang suaminya masih ada hubungan keluarga dengan ibunya Arin meminta Balita tersebut dibawa ke rumahnya dan dia berkeinginan untuk mengasuhnya, padahal waktu itu dia sudah memiliki empat orang anak.

“Waktu itu tersangka menelpon ibunya Arin dan meminta Balita itu dia yang mengasuhnya, namun sempat ditolak karena ibunya Arin sempat mengatakan tidak bisa membayar gaji, namun tersangka RN tetap ingin mengasuhnya,” kata Suprapti.

Tepatnya Februari 2021, setelah adanya kesepakatan, akhirnya balita tersebut dibawa ke Rangsang untuk diasuh olehnya, dimana ada uang yang dikirim dari Malaysia untuk pembiayaan asuhan.

Setiap bulannya, tersangka dikirimkan uang oleh Arin sebesar Rp500 ribu diluar biaya lainnya yang nominalnya mencapai jutaan.

“Kami tanyakan kepada tetangganya, waktu itu kondisi Balita masih sehat dan cantik, setiap sore ia dibawa berkeliling jalan-jalan, dan rambutnya pun tampak diikat dengan pita dan kondisinya sangat terawat,” ungkap Suprapti.

BACA JUGA  Jamaah Salat Tarawih di Riau Ini Meninggal Saat Sujud Terakhir Salat Tarawih

Setelah dua Minggu, kondisi pun berubah, dimana Balita tersebut tidak lagi dibawa jalan dan rumahnya pun sering ditutup.

“Dua Minggu setelah itu, tidak ada dibawa keluar, rumahnya pun terkunci rapat. Kalau pun keluar, itu ketika ada rapat PKH anak itu pun dipakaikan jilbab dan hanya muka saja yang kelihatan. Anak itu diajak pergi karena di rumah tidak ada yang jaga. Setelah itu anak itu pun dikurung di rumah, saya tanyakan sama teman sebayanya pun memang tidak pernah keluar bermain. Menurut keterangan tetangga anak ini sering dipukuli, namun ketika menangis tidak ada yang dengar karena musik dibunyikan dengan keras,” ujar Suprapti.

Ditambahkan, hubungan sosial tersangka dengan tetangga pun kurang harmonis karena sering bertengkar dan sering pula dimediasi oleh ketua RT.

Dikatakan Suprapti, dari pengakuan suaminya juga sering melihat Balita tersebut dipukul menggunakan sapu.

Anak-anak tersangka pun enggan tinggal bersama ibunya, karena sikapnya yang kasar dan sering memukul.

“Suaminya kerja di pelabuhan, dari pagi sore baru tiba di rumah, namun suaminya sering melihat Balita itu menangis dan pengakuan sang Balita bahwa dia memang dipukuli oleh Oma nya dan tak jarang suami memarahi tersangka dan mereka pun kerap cekcok mulut. Suaminya pun bertanya kenapa sering memukuli, tersangka pun beralasan dirinya kesal Balita itu sering buang air di lantai,” ucap Suprapti.

Terkait adanya bekas luka di sekujur tubuh korban tersebut, dikatakan Suprapti bahwa tersangka mengatakan jika korban sering jatuh dan jarang kuga dia sering mencakar

“Tersangka mengatakan jika korban sering jatuh makanya ada bekas luka dan luka itu pun sering digaruknya, Namun dia juga mengakui jika sering mencubit anak asuhnya itu, makanya ada bekas cakaran kuku di kulit Balita itu,” ungkapnya.

Dari keterangan suaminya kepada Polisi, bahwa dia tidak akan berbohong dan mengatakan yang sebenarnya yang terjadi.

“Suaminya sangat kooperatif dan sanggup memberikan kesaksian kepada polisi dan tidak akan berbohong terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu Arin yang berada di Malaysia meminta kepada pelaku untuk dihukum dengan seberat-beratnya,” kata Suprapti.

Terakhir disampaikan bahwa kasus tersebut merupakan akibat dari mengasuh anak yang dianggap tidak resmi atau ilegal.

“Kami mengimbau agar masyarakat yang ingin mengasuh anak untuk melaporkan ke dinas terkait dan idealnya seperti itu. Kasus tersebut adalah contoh pengasuh yang tidak legal, makanya terjadilah penganiayaan dan eksploitasi anak karena hanya ingin mendapatkan uang,” jelasnya.

Kasus anak di Kepulauan Meranti sangat menonjol, dibeberkannya bahwa pada tahun 2020 terdapat 52 kasus, diantaranya 48 kasus anak dan 4 kasus perempuan. Sementara di tahun 2021 dari 34 Kasus 32 kasus anak dan dua kasus perempuan.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here