Kampar – Bagi penemu seorang balita yang hilang di Kabupaten Kampar, Riau akan dihadiahi sebesar Rp20 juta.

Sayembara itu dilakukan oleh pihak keluarga bagi yang menemukan balita berumur 2 tahun itu.

Upaya pencarian terhadap Sakiya Rafifa Islami, warga Dusun III Pantai Pulau, Desa Terantang, Kecamatan Tambang, Kampar hingga saat ini masih terus dilakukan.

Nazarudin, paman kandung Kiya, mengumumkan sayembara itu melalui akun Facebook “Udin Bos” pada Sabtu (14/8/2021).

Unggahan itu mencantumkan foto Kiya.

Hidup atau tidak, ia akan memberi yang pribadinya sebagai hadiah bagi penemu Kiya.

Ia membenarkan unggahan yang berisi sayembara itu kepada Tribunpekanbaru.com ketika dikonfirmasi, Minggu (15/8/2021) malam.

Nazarudin adalah abang dari ibu Kiya, Riska Fadela. Istri dari Muhammad Islami, ayah bayi malang itu.

Nazarudin mengkonfirmasi sayembara berlaku 10 hari atau sampai 24 Agustus 2021. Batasan waktu ini berdasarkan pertimbangan jangka waktu sejak hilangnya Kiya pada Senin (9/8/2021) lalu.

“Hilangnya aja sudah berapa lama. Besok (Senin) pas lah seminggu,” katanya.

Sehari setelah sayembara itu diumumkan, ia mengaku belum ada titik terang tentang keberadaan keponakannya itu.

Keluarga belum menerima informasi apapun.

Nazarudin menuturkan, sayembara ini adalah salah satu upaya yang ditempuh keluarga.

Keluarga sudah meminta bantuan dari paranormal.

Berbagai kemungkinan penyebab hilangnya Kiya, menjadi pertimbangan untuk mengambil langkah yang ditempuh.

Ditanya alasan keluarga tidak melapor ke kepolisian, Nazarudin mengaku sudah ada rencana. Jika tidak ada perubahan, keluarga akan melapor pada Senin (16/8/2021).

“Ini sekarang nggak tahu kenapa. Entah diculik, dibawa roh halus. Tapi mungkin besok mau melapor ke polisi,” kata Nazarudin.

Ia menegaskan, apapun upaya yang dilakukan, keluarga tetap berserah kepada Tuhan.

“Keluarga tetap menyerahkan kepada yang Satu. Kita hanya bisa berusaha aja,” tandas Nazarudin.

Kemungkinan Kiya diculik, kata dia, bisa saja ada.

Pada waktu Kiya hilang dari halaman rumahnya pagi itu sekira pukul 11.00 WIB, tepat di hari pasar.

Pasar mingguan berlokasi sekitar 150 meter dari rumah itu.

“Berdiri aja dari rumah itu, nampaklah pasar itu. Kebetulan hari pasar, jadi memang banyak orang lalu lalang,” jelas Nazarudin.

Sebelumnya, seorang ahli spiritual di Kampar yang menyamarkan namanya dengan Uwak Gondrong mengaku tidak yakin jika ada kekuatan gaib di balik hilangnya Kiya.

BACA JUGA  Disayembarakan Hingga Rp125 Juta, Ervina Lubis Warga Riau Tak Kunjung Ditemukan

Hasil penerawangannya, bayi cantik itu hilang diculik yang pelakunya diperkirakan berjumlah dua orang.

Ditanya tanggapannya tentang pendapat Uwak Gondrong, Nazarudin menyatakan akan menjadi bahan pertimbangan keluarga.

Ia tidak mempersoalkan hasil penerawangan Uwak Gondrong.

Awalnya Kiya diduga hilang terseret arus Sungai Kampar.

Pencarian di Sungai Kampar sekitar Desa Terantang sudah berlangsung sampai empat hari. Keluarga meminta pencarian dihentikan pada Rabu (11/8/2021) sore.

Ada rumor beredar jika bayi itu hilang ditelan oleh alam gaib. Kepala Desa Terantang, Asmara Dewi menjelaskan pertimbangan keluarga yang meminta pencarian dihentikan.

“Keluarga punya firasat seperti dibawa roh halus gitu,” ungkap Asmara kepada Tribunpekanbaru.com, Kamis (12/8/2021).

Keluarga berencana meminta bantuan kepada ahli spiritual untuk melakukan pencarian.

Asmara sebenarnya sudah melaporkan kehilangan balita malang, Sakiya Rafifa Islami, ke Kepolisian Sektor Tambang.

Tetapi sebaiknya kehilangan ini dilaporkan langsung oleh orangtuanya.

Menurut Asmara, Kiya, sapaan akrab bayi itu, hilang di halaman depan rumah saat bermain di dalam pengawasan sang ayah, Muhammad Islami.

“Ntahlah, sekejap aja hilang,” katanya.

Asmara mengungkap, beberapa analisa keluarga dan warga menyimpulkan ketidakmungkinan Kiya hilang terseret arus sungai.

Rumah korban membelakangi sungai.

Jarang sungai ke rumah korban sekitar 100 meter.

Apalagi sungai sedang surut. Kontur tepi sungai juga landai.

Sehingga, tidak memungkinkan Kiya terperosok dan jatuh ke sungai.

Saat Kiya hilang, ibunya Riska Fadela sedang di dapur.

Menurut Asmara, jika Kiya berjalan mengarah sungai, pasti akan terlihat ibunya.

Dugaan tentang kemungkinan Kiya diculik juga sulit diterima akal. Asmara kembali menjelaskan analisa keluarga dan warga.

Di depan rumah korban berhadap-hadapan dengan rumah tetangga.

Di samping rumah korban juga ada warung. Saat Kiya hilang, di warung itu ada dua orang tamu.

“Orang itu juga masih sempat panggil-panggil. Kiya.. Kiya..,” kata Asmara menirukan sapaan kedua tamu warung.

Atas dasar analisa itulah, lanjut Asmara, keluarga dan warga meminta pencarian dihentikan di hari keempat sejak hilang Senin (9/8/2021) lalu.

Apalagi pencarian sudah mencakup radius yang sangat jauh.

Baik ke hilir maupun hulu.

Pada dasarnya, Asmara lebih memilih pencarian terus dilakukan.

BACA JUGA  Istri Belum Ditemukan, Suami di Riau Naikkan Kembali Hadiah Sayembara Rp 125 Juta Tunai

Sebab Sungai Kampar di wilayahnya dangkal.

Ditambah di lokasi itu banyak aktivitas Galian C.

Tetapi analisa keluarga dan warga berkata lain.

Menurut sepengetahuan warga, bayi lebih cepat mengapung setelah tenggelam.

Analisa dan permintaan pencarian dihentikan adalah hak keluarga.

Asmara menyerahkan pilihan keputusan kepada keluarga.

Sebelumnya, Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar, Adi Candra Lukita mengatakan, pencarian dihentikan atas permintaam keluarga dan tokoh setempat.

Candra menyebutkan, pencarian hingga hari keempat sudah mencakup radius jelajah mencapai 10 kilometer ke hulu dan 20 kilometer ke hilir.

Menurut dia, ada warga yang mengaku melihat orang hanyut setelah Kiya hilang.

Mendengar pengakuan warga tersebut, tim gabungan yang melakukan pencarian menyisir jauh ke hilir. “Kita kejar ke hilir. Ternyata boneka besar.

Memang pas sebesar bayi dua tahun,” ujar Candra.

“Pihak keluarga dan Ninik Mamak disaksikan kepala desa juga, meminta supaya pencarian dihentikan,” ungkap Candra kepada Tribunpekanbaru.com, Kamis (12/8/2021).

Pencarian resmi dihentikan di hari keempat pencarian sejak balita malang, Sakiya Rafifa Islami hilang pada Senin (10/8/2021) sekitar pukul 11.00 WIB.

Ia menyatakan, tim siap diminta untuk melakukan pencarian kembali jika diperlukan.

Candra menjelaskan, keluarga memiliki pendapat lain untuk pencarian dihentikan. Keluarga tidak begitu yakin Sakiya hanyut terseret Sungai Kampar.

“Ayahnya bilang hilangnya di depan rumah. Kurang yakin main ke sungai,” kata Candra.

Keluarga berkemungkinan menempuh upaya lain.

Tetapi ia menyarankan untuk upaya tersebut ditanyakan kepada pihak keluarga.

Balita malang Sakiya Rafifa Islami menghilang sekitar pukul 11.00 WIB.

Sejak pagi, Sakiya bermain bersama ayahnya di rumah.

Lalu sekitar pukul 11.00 WIB, balita itu meminta bantuan sang ayah memasangkan sandal di kakinya.

Si ayah menuruti permintaan putrinya itu.

Dengan sandal yang dipakaikan ayahnya, Sakiya pergi keluar rumah.

Tak lama kemudian, balita itu menghilang.

Ayah yang panik mencari-cari Sakiya di luar rumah dekat Sungai Kampar itu.

Tetapi tidak ditemukan.

Tetangga juga ikut mencari.

Belakangan, masyarakat dari desa tetangga memberitahu telah melihat seorang anak kecil hanyut di sungai.

Berdasarkan informasi itu, mereka yang melakukan pencarian menyimpulkan Sakiya hilang tenggelam di sungai.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here