Riauhub.comHeritage of Toba adalah anugerah Tuhan yang menjelma dalam wujud panorama dan budaya yang eksotis. Kekayaan alam berupa plasma nutfah turut mendukung keindahan di Danau Toba dan sekitarnya. Didukung oleh budaya yang unik, wilayah ini dijadikan oleh pemerintah sebagai Destinasi Super Perioritas (DSP) Toba. Oleh sebab itu, alam dan budaya Toba telah mencuri perhatian dunia.

Toba sebagai salah satu pariwisata yang menyimpan banyak warisan budaya nasional. Dengan demikian, penting dilakukan penjajakan lebih dekat terhadap Toba melalui sajian lirik lagu berjudul “Pulo Samosir” ciptaan Nahum Situmorang. Selain sebagai sebuah hiburan, maka lirik lagu yang fenomenal ini akan membawa pembaca menikmati Toba sehingga keinginan untuk mengunjungi Toba semakin menjadi-jadi.

Lirik lagu “Pulo Samosir” diawali dengan kalimat yang memperkenalkan pencipta sebagai orang Samosir asli. Pencipta begitu mengagung-agungkan tanah kelahirannya tersebut seperti kutipan berikut:

Pulo Samosir do
haroroan hu samosir do
ido asal hu sai tong ingoton hu
saleleng ngolukku hupuji ho

Pulau Samosir
Aku datang dari Samosir
Itulah asalku dan selalu kuingat
Selama hidupku engkau kupuji

Pada bait-bait berikutnya, Nahum Situmorang dalam karyanya berjudul “Pulo Samosir” memperkenalkan kekayaan Toba dengan cara yang elegan. Tentang kearifan lokal masyarakat Toba, tentang kuliner Toba, tentang cara masyarakat Toba memuliakan tanah nenek moyangnya. Sikap inilah yang melekat kuat dalam masyarakat yang masih menjunjung tradisi dan budaya meskipun di tengah-tengah kemegahan destinasi alamnya. Dengan demikian, Toba sebagai pariwisata lokal berhak memperoleh keistimewaan di mata dunia.

a. Kearifan Lokal Masyarakat Toba

Lirik lagu “Pulo Samosir” karya Nahum Situmorang menggambarkan bahwa alam yang terbentang dengan indahnya tidak akan sempurna tanpa kearifan lokal masyarakat setempat. Keseharian masyarakat menjadikan alam Toba semakin hidup. Dengan adanya kearifan-kearifan lokal masyarakat menunjukkan betapa harmonisnya antara alam dengan manusia.

Kearifan lokal masyarakat setempat berupa hidup dengan cara bercocok tanam berupa: kacang, bawang, dan padi; beternak; dan mengandalkan hasil danau. Hal ini tampak dalam kutipan berikut:

pardekkean hu haumakki
gok disi hassang nang eme nang bawang
rarat do pinahan di doloki

(Di sana) tambak dan ladangku
Banyak di situ kacang, padi, juga bawang
Banyak juga hewan ternak menyebar di bukit-bukit

b. Kuliner Masyarakat Toba

Toba tidak terlepas dari kekhasan kulinernya. Berbagai jenis makanan olahan ikan mas menjadi sajian yang istimewa berupa ikan tinombur dan dekke niura seperti dalam kutipan lagu “Pulo Samosir” berikut:

tu natinombur masihol ho
dekke ni ura dohot namargota
di pulo samosir do dapot ho

Pada ikan tinombur, engkau rindu
Atau pada ikan mas na niura atau daging (campur) darah
Di Pulau Samosir akan kau dapatkan

Dikutip dari buku Makanan: Wujud, Variasi, dan Fungsinya Serta Cara Penyajiannya Daerah Sumatera Utara (1993:145-146) ikan tinombur berupa sajian ikan berkuah yang terbuat dari ikan bakar dan disedu dengan sedikit air yang telah dicampur dengan rempah khas Toba, seperti: andaliman dan kincung mentah. Berbeda dengan dekke na niura yang berarti ikan mas mentah yang direndam dengan asam selama minimal dua jam. Sajian dekke na niura ini juga menggunakan andaliman sebagai rempah khusus. Kedua sajian ikan ini menjadikan penikmatnya, khususnya pencipta lagu merasa rindu untuk terus berkunjung ke Toba agar bisa merasakan kembali kenikmatannya. Bahkan masih banyak lagi kuliner khas Toba seperti: namargota dan tuak takkasan.

c. Memuliakan Warisan Budaya

Masyarakat setempat sebagai bagian dari keunikan pariwisata Toba turut serta memberikan warna tersendiri. Keberadaan masyarakat yang melekat dengan nilai-nilai tradisional membuat Toba semakin hidup. Pada lirik lagu “Pulo Samosir”, tergambar kebiasaan masyarakat setempat dalam memuliakan warisan budayanya seperti berikut:

BACA JUGA  Program Keluarga Harapan: Bangkit Bersama Membangun Bangsa

lao pe au marhuta sada
tung so pola leleng nga mulak au
diparjalangan dang sonang au
sai tu pulo samosir masihol au

Walau aku menetap di tempat lain
Tak perlu lama aku akan pulang
Di perantauan aku tak bahagia
Ke Pulau Samosir aku selalu rindu

Dari kutipan lirik lagu di atas, pencipta lagu sebagai bagian dari masyarakat setempat menyampaikan bahwa suasana kerinduan mendalam terhadap Pulau Samosir sebagai bagian dari Heritage of Toba yang dirasakan oleh para perantau. Oleh karena itu, perantau akan selalu berupaya menjaga warisan budaya yang telah melekat kuat sehingga perantau dengan mudah dikenali oleh masyarakat lain. Adapun warisan budaya yang tetap terjaga sampai kini di Toba, yaitu: bahasa, konsep dalihan natolu, pakaian, rumah adat, tarian, nama, dan ragam bahasa.

Bahasa Toba memiliki kosa kata dan tulisan dari suku yang mendominasi, yaitu suku Batak. Bahasa Batak Toba terdengar “kasar” karena diucapkan dengan logat yang menyerupai orang marah. Padahal, masyarakat setempat sangat terbuka dan ramah. Oleh sebab itu, sering dikenal anekdot berikut: “Orang Batak itu seperti bika ambon. Keras di luar, lembut di dalam”.

Warisan budaya berikutnya adalah konsep dalihan natolu yang berarti ‘tungku berkaki tiga’ untuk memperoleh keseimbangan sebagai konstruksi sosial yang menjadi dasar bersama. Tiga hal tersebut adalah: 1. somba marhula-hula yang berarti hormat kepada keluarga istri; 2. elek marboru yang berarti lemah lembut terhadap boru atau perempuan; dan 3. Manat mardongan tubu/ sabutuha yang berarti berhati-hati terhadap sesama marga (dikutip dalam buku Dalihan Natolu pada Masyarakat Batak Toba di Kota Medan, Harvina, dkk., 2017:1-4).

Pakaian masyarakat Toba tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Pakaian untuk adat memiliki ciri khas yang disebut dengan ulos yang dipakai sebagai tanda penghormatan. Pada saat ini, ulos menjadi salah satu kerajinan tenun masyarakat setempat yang bernilai ekonomis karena diminati oleh para wisatawan.

Rumah adat masyarakat Toba disebut dengan bagas bolon atau ‘rumah besar’ dan terbuat dari kayu. Bentuknya berupa panggung dengan ujung-ujung atapnya meruncing ke atas. Motif dan ornamen yang terdapat di dalam rumah adat tersebut mengandung filosofis dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.

BACA JUGA  Program Keluarga Harapan: Bangkit Bersama Membangun Bangsa

Tarian masyarakat Toba dikenal dengan nama tortor. Tarian ini dijadikan sebagai pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus seremonial yang diiringi dengan alat musik gendang. Tarian ini ditarikan secara bersama-sama dan para penari menggunakan ulos sebagai bagian dari properti saat menari.

Warisan budaya berikutnya adalah nama. Bagi masyarakat Toba, marga harus mengikuti nama setiap anak yang lahir ke dunia. Marga memiliki posisi penting karena marga akan menjadi penentu pertuturan di dalam konsep dalihan natolu. Marga akan diteruskan oleh anak laki-laki kepada keturunannya. Satu hal yang unik adalah saat sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka marga keluarganya dianggap terputus.

Selanjutnya, ragam bahasa masyarakat Toba memiliki kekhasan seperti dalam buku Tradisi Umpasa Suku Batak Toba Dalam Upacara Pernikahan (Sitanggang, 1996:25-29), yaitu: hata somal, hata andung, hata datu dan hata partondung. Hata somal merupakan bahasa yang digunakan masyarakat sehari-hari. Hata andung merupakan kata tangis yang digunakan untuk meratapi jenazah, menangisi nasib, atau ungkapan sesal terhadap perpisahan dengan orang yang dikasihi; hata datu merupakan bahasa yang digunakan dukun dalam bentuk mantra; dan hata partondung merupakan bahasa yang digunakan oleh para pencari kapur barus di tengah hutan.

Selain ragam bahasa, terdapat kosa kata yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Toba. Kosa kata tersebut adalah “mauliate godang” yang bermakna ‘terima kasih banyak’. Selain itu, kosa kata paling identik adalah kata “Horas” sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia serta memohon keberkahan dari Tuhan.

d. Toba Menjadi Pilihan

Lagu “Pulo Samosir” ciptaan Nahum Situmorang telah mendeskripsikan keindahan Toba secara menyeluruh. Penginapan, hotel berbintang, kuliner, seni budaya, sastra, sarana edukasi, serta didukung dengan alam dan infrastruktur yang sudah memadai menjadikan Toba benar-benar wonderful Indonesia. Hal ini sesuai dengan kutipan lagu “Pulo Samosir” berikut:

naeng ho marlogu di atas ni solu
pasonangkon ngolu tusi ma ro

Kau ingin bernyanyi di atas perahu
Menyenangkan hidup, datanglah ke sana

Dengan melihat fasilitas yang telah tersedia di kawasan Toba, maka para pengunjung dapat menjadikan kawasan Toba sebagai pilihan untuk menyenangkan hidup. Bahkan, untuk kepentingan bisnis berupa MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) dapat dilakukan di Toba sebagai bagian dari MICE di Indonesia aja.

Demikianlah lagu legendaris ini memaparkan pesona Toba dalam memajukan pariwisata lokal bersakala dunia. Lagu “Pulo Samosir” layak diapresiasi karena mengandung banyak pesan moral dan pariwisata. Alangkah lebih menarik ketika lagu ini disajikan kepada para pengunjung dan wisatawan saat menikmati alam dan budaya Toba.
Horas..

Leave A Reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini